Di Padang, Pengangguran Meningkat, Namun Kemiskinan Menurun, Ini Penyebabnya

oleh -
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Padang, Medi Iswandi

PADANG, SR–Pandemi Covid-19 telah mengganggu sektor usaha dan perekonomian. Pemangkasan karyawan dengan pemberlakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di sejumlah perusahaan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Padang, Medi Iswandi menyebut, angka pengangguran di kota ini jauh meningkat.

“Selama Pandemi, berdasarkan data yang dirilis BPS Kota Padang, angka pengangguran naik dari 8,6 persen menjadi 13 persen,” ujarnya, Jumat (2/4).

Medi menilai, seharusnya, angka pengangguran yang cukup tinggi itu akan bermuara pada kemiskinan. Sebab, pengangguran tidak memiliki pendapatan setiap harinya. “Namun kenyataannya, setelah BPS menyampaikan kepada kami, angka kemiskinan justru menurun,” kata Medi.

Baca Juga: PLN UIW Sumbar Jamin Pasokan Listrik selama Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H

Angka kemiskinan sebesar 4,48 persen justru turun 0,08 persen. BPS mencatat angka kemiskinan di Padang menjadi 4,4 persen. “Jadi, pengangguran meningkat, tapi kemiskinan tidak tampak,” katanya.

Penyebab turunnya angka kemiskinan di Padang karena selama masa pandemi, sikap kegotongroyongan warga Kota Padang cukup tinggi. Rasa kesetiakawanan terbilang kental.

Pengangguran tidak dibiarkan menganggur tanpa mendapatkan kebutuhan hidup sehari-hari. “Ada lembaga zakat dan saudara-saudara kita yang membantu mereka yang menganggur,” kata Medi.

Selama masa pandemi Covid-19, Wali Kota Padang memang telah mengajak badan amil zakat, dompet dhuafa dan lainnya untuk membantu siapa saja yang terimbas Covid-19.

Bahkan kepala OPD dan seluruh ASN diimbau untuk membantu yang terdampak. Seperti menyiapkan sembako di atas kendaraan masing-masing untuk nantinya dibagikan kepada siapa saja. “Walau mereka menganggur, akan tetapi bahan pokok mereka tetap tersedia setiap hari, karena mereka dibantu oleh badan zakat dan lainnya,” ujar Medi.

Medi mengatakan, BPS Kota Padang telah mencatat angka pengeluaran per hari mereka yang menganggur selama pandemi. Pengeluaran rata-rata yakni Rp570 ribu / bulan / kapita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *