Kompaknya Ranah dan Rantau Masyarakat Guci Nagari Balah Aie Timur Padang Pariaman

oleh -
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh masyarakat Suku Guci Nagari Balah Aie Timur Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, di Surau Genteng, Jorong Pincuran Sungsang, Minggu (31/10).

PADANGPARIAMAN, SR–Kekompakan masyarakat ranah dan rantau Suku Guci Nagari Balah Aie Timur Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman terlihat dalam pelaksanaan peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW, di Surau Genteng, Jorong Pincuran Sungsang.

Maulid Akbar yang bertujuan sebagai rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SWA yang telah membawa umat keluar dari alam jahiliyah itu, tidak hanya dihadiri oleh masyarakat di kampung halaman. Tapi juga ratusan orang perantau yang menggelar “pulang basamo”.

“Ketika kita melakukan gerakan kembali ke nagari pascareformasi, sesungguhnya inilah salah satu tujuannya. Menyatukan potensi dari ranah dan rantau,” kata Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah di Padang Pariaman, Minggu malam (31/10).

Baca Juga: Perantau Minang Salurkan Bantuan Rp717 Juta untuk Korban Kebakaran Pasar Bawah Bukittinggi

Ikatan emosional antara perantau dengan kampung halamannya tidak akan putus meski sudah berpuluh-puluh tahun tidak bisa pulang ke kampung. Jika terjadi musibah di kampung, perantau juga merasakan sakitnya. Ikut membantu untuk meringankan. Ketika ada pembangunan untuk kemaslahatan umat di kampung, perantau ikut mengirimkan dana bantuan.

Ketika ada acara besar, masyarakat di kampung juga tidak lupa mengundang para perantau untuk pulang bersama, menjalin tali silaturahim.

“Ini pulalah yang dikatakan dalam Al Quran surat Ali Imran 103. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” katanya.

Ia berpesan agar kekompakan itu terus dijaga dan dipelihara dalam kerangka upaya memajukan dan mensejahterakan masyarakat nagari.

Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur mengatakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar secara besar-besaran itu semata-mata adalah bentuk rasa syukur sekaligus upaya memperkuat tali silaturahmi masyarakat di kampung dan perantauan.”Jadi tidak benarlah bila ada yang menyebutnya bid’ah. Tujuannya jelas,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.