Koperasi Dibungkam Ketika Menantang Perbudakan Berupah

oleh -614 views

Dalam diskusi tentang koperasi yang sudah sering penulis lakukan secara tatap muka di luar jaringan (luring) maupun secara jarak jauh atau dalam jaringan (daring) dengan banyak orang. Salah satu respon yang sangat sering dikemukakan adalah koperasi (sosialistik) secara perekonomian tidak pernah menjanjikan keuntungan apalagi kekayaan ketika dibandingkan dengan korporasi (kapitalistik).

Oleh: Virtuous Setyaka

Terutama ketika mengaitkan koperasi dan korporasi dengan bisnis untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi bagi para Petani. Salah satu hal yang sering dilupakan banyak orang adalah posisi dan peran koperasi dan korporasi dengan lebih spesifik: untuk kekayaan individual atau untuk kemakmuran bersama?

Maka dengan demikian, membandingkan koperasi dengan korporasi tidak bisa dalam nalar berpikir episodik atau jangka pendek, namun akan lebih bijak ketika dengan nalar berpikir historik atau jangka panjang. Bahkan meskipun sesungguhnya untuk memperkaya individu dengan berkorporasipun butuh waktu yang tidak singkat, karena memang tidak ada bisnis yang langsung membuat seseorang mampu menumpuk keuntungan dan meraih kekayaan berlimpah dalam jangka pendek.

Sedangkan berkoperasi adalah cara untuk menyelamatkan korban ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial yang memang sudah terjadi ketika bisnis ala korporasi yang kapitalistik diselengarakan dan dipertahankan terus menerus.

Korporasi dan Koperasi di Hadapan Pasar?

Untuk menguji keberhasilan penggunaan koperasi dan korporasi dalam memberantas kemiskinan dan meningkatkan kemakmuran banyak orang adalah dengan menghadapkannya kepada pasar, bahkan ketika pasar itu juga harus didefinisikan lebih sempit lagi dan dibedakan antara yang free (pasar bebas) dan fair (pasar berkeadilan). Dalam logika korporasi kapitalistik, pasar adalah sesuatu yang ada di luar sana.

Sedangkan dalam logika koperasi sosialistik, pasar justru sesuatu yang ada bahkan melekat di dalamnya. Ketika pasar itu dikelola dengan cara yang free maupun fair, maka bentuk berbisnis mana yang sesungguhnya lebih menguntungkan bagi para pelaku bisnis secara individual sekalipun?

Baca Juga: Eco Enzyme Nusantara: Setahun Gerakan Merawat Bumi dari Rumah Tangga di Indonesia

Tentu saja dengan berkoperasi, karena di dalam koperasi itu setiap produsen dan konsumen sudah tersedia bahkan terkait dan terikat secara kelembagaan atau institusional. Harus disadari bahwa berkoperasi bukan berarti bahwa semua bisnis akan dikooptasi sepenuhnya secara kolektif atau komunalistik. Namun justru sangat memungkinkan untuk menyelenggarakan bisnis yang sifatnya “milik saya” dan “milik kita” secara berbarengan atau simultan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *