Melalui Kemah Seniman 2021, Merawat Kebudayaan Sebenarnya Merawat Peradaban

oleh -
Pendiri Pincutan Raso Production, Bambang Sriyanto. [ist]

PAYAKUMBUH,SuaraRantau.com – Pendiri Pincutan Raso Production, Bambang Sriyanto mengapresiasi perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap kebudayaan. Karena tidak hanya hanya merawat kebudayaan tetapi sebenarnya sedang merawat peradaban.

“Berbicara kebudayaan tak hanya berbicara tentang seni dan kebudayaan saja, tetapi lebih merawat peradaban dalam tatanan nilai-nilai luhur tradisi yang pernah hidup dan berkembang dimasa lalu,” ujarnya yang dikenal dengan nama Bambang Mara Sampono.

Dikatakannya, di tengah kemajuan teknologi informasi, komunikasi, tranportasi dan masuknya pengaruh budaya luar di tengah-tengah tatanan kehidupan masyarakat lokal, maka sangat penting adanya resolusi budaya.

Baca Juga: Opening Ceremony MTQ Sukses Buat Takjub Semua Mata

Karena menurut Mara Sampono, saat ini tengah berkecamuk terjadi degradasi nilai-nilai kebudayaan atau adab.

Disebutkannya, tidak sepenuhnya salah dengan kemajuan teknologi informasi, dan masuknya budaya luar di tengah-tengah masyarakat lokal, tetapi salahnya tidak ada benteng yang kokoh tertanam dalam diri anak-anak muda dan generasi penerus hari ini terhadap adap dan karakter serta moral.

“Terkikisnya karakter tidak bisa disalahkan teknologi informasi, tapi kita yang tidak merawat dan tidak punya benteng. Budaya global tidak bisa dibendung dia datang bagai air bah, dan kita minangkabau tidak punya benteng bahkan nasional. Dengan menghidupkan seni dan rasa kita punya benteng untuk bertahan,” katanya.

Disampaikannya, pemerintah dan masyarakat harus punya grand design untuk menciptakan masyarakat yang berkarakter dan berakhlak mulia. Salah satu wadahnya adalah melalui seni budaya.

“Ini pembangunan mental, harus mengacu kepada rasa, dengan rasa lahirnya embrio yang membuat Indonesia merdeka, itulah rasa nasionalisme. Dan rasa ini yang kini terdegradasi, mulai hilang di tengah-tengah tatanan kehidupan kita hari ini,” bebernya.

Bila dulu, tatanan nilai-nilai yang hidup dimasyarakat benar-benar lahir dari sara saling menghormati, menghargai dan menyayangi. Dimana yang tua dihormati, yang muda diajak bergaul dan yang kecil disayangi. Konsep ini yang kini mulai pudar dan tidak mendarah daging dalam karakter anak muda hari ini. Semuanya sibuk dengan handphone masing-masing, dan inilah ciri generasi milenial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.