Peringati HUT ke-133 Kota Sawahlunto, Lokomotif Kereta Api Legendaris Mak Itam Dioperasikan

oleh -
Sekelompok murid SD yang datang dari Kota Padang Panjang melihat salah satu bukti sejarah perkeretapian di Provinsi Sumbar di Kota Sawahlunto

SAWAHLUNTO, SR–Mak Itam, lokomotif uap tua dengan kode E 1060 bernilai sejarah menyapa pengunjung yang ingin melihatnya di Museum Kereta Api di Kota Sawahlunto.

Lokomotif uap tua legendaris itu berada dalam sebuah kurungan pagar besi yang sangat tinggi. Pagar besi tersebut sebagai penanda pengunjung tidak boleh menyentuh tubuh rentanya.

Dalam pagar jeruji besi tersebut ia seakan berkata siap dioperasikan pada perayaan HUT ke-133 Kota Sawahlunto.

Walaupun tidak berkesempatan menyentuh dan menaiki Mak Itam, tidak menyurutkan sekelompok murid SD yang datang dari Kota Padang Panjang melihat salah satu bukti sejarah perkeretapian di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) itu.

Baca Juga: Hadapi Libur Natal dan Tahun Baru, Menkes Ingatkan Masyarakat Waspada Covid-19

Mereka dipandu oleh seorang pemandu saat menerangkan sejarah perkeretapian di Sumbar. “Mak Itam akan dioperasikan saat perayaan HUT Kota Sawahlunto pada 1 Desember nanti,” ungkap Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta, SH, Senin (22/11).

Deri Asta SH menambahkan, pada perayaan HUT Kota Sawahlunto nanti, Mak Itam akan dioperasikan dari Stasiun Sawahlunto menuju Stasiun Muaro Kalaban.

Deri Asta SH sangat berterima kasih atas usaha yang dilakukan Direktoran Jenderal Perkeretaapian yang telah melakukan reaktivasi jalur kereta api antara Sawahlunto menuju Muaro Kalaban.

“Kita harus menjaga situs yang telah menjadi cagar budaya UNESCO ini. Reaktivasi jalur kereta api ini sangat kita dukung, karena bisa menghidupkan ekonomi dari sektor wisata. Jadi, kita berharap kereta api penumpang kembali beroperasi di Sawahlunto untuk menggerakan pariwisata di daerah ini,” tambahnya.

Sejarah perkeretapian di Sawahlunto berawal sejak ditemukannya tambang batu bara di daerah tersebut. Sebelumnya, kereta api di Sumbar diperuntukan untuk distribusi kopi dari daerah pedalaman (Bukittinggi, Payakumbuh, Tanah Datar, Pasaman) ke pusat perdagangan di Kota Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.