Program Perhutanan Sosial Solusi Atasi Kemiskinan dan Kerusakan Kawasan Hutan di Sumbar

oleh -
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah saat peluncuran Proyek Penguatan Perhutanan Sosial, atau SSF Project in Indonesia, Jumat (8/10).

PADANG, SR–Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah mendukung peluncuran Proyek Penguatan Perhutanan Sosial, atau Strengthening of Social Forestry (SSF) Project in Indonesia.

Proyek SSF ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas dan kemampuan masyarakat sekitar hutan, untuk memanfaatkan akses perhutanan sosial dalam upaya meningkatkan kesejahteraan.

“Sebanyak 81,97 persen desa atau nagari di Sumbar berada di dalam atau sekitar hutan dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan angka kemiskinan cukup tinggi. Proyek ini pada akhirnya diharapkan mampu membantu upaya pengentasan kemiskinan di Sumbar,” kata Mahyeldi Ansharullah, Jumat (8/10).

Baca Juga: Penurunan Angka Stunting di Sumbar, Mahyeldi: Fokus Sasaran Harus Jelas

Ia mengatakan, pengelolaan sumber daya alam (SDA) secara baik melalui perhutanan sosial mampu memberikan manfaat bagi manusia dan alam. Hal itu sekaligus meminimalkan praktik pengelolaan yang tidak baik yang mengakibatkan kerusakan hutan yang berdampak terjadinya banjir, tanah longsor, kekeringan. Bahkan jika terjadi dalam waktu lama bisa mempengaruhi perubahan iklim.

Program Perhutanan Sosial di Sumbar telah menjadi salah satu solusi dalam sektor kehutanan. Program tersebut diimplementasikan melalui lima skema yaitu skema Hutan Nagari / Desa (HD), Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Kemitraan Kehutanan (KK) dan Hutan Adat (HA).

Program itu juga sejalan dengan visi misi dan beberapa program unggulan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar yang terangkum dalam RPJMD 2021-2026.

“Pemberian akses pengelolaan hutan kepada masyarakat melalui perhutanan sosial diharapkan bisa memberikan kontribusi positif bagi kelangsungan sumber daya hutan dan bagi kesejahteraan masyarakat. Masyarakat dapat memanfaatkan potensi yang terdapat dalam hutan seperti hasil hutan bukan kayu, pemanfaatan jasa lingkungan tanpa memotong pohon. Sehingga kerusakan hutan bisa diminimalkan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.