Puluhan Jurnalis Terjun ke Daerah Rawan Bencana

oleh -
Rombongan Jitu Pasna bagi jurnalis media informasi cetak dan elektronik se-Sumbar mengunjungi lokasi bencana di Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Kota Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Jumat (1/11)

LIMAPULUH KOTA, SR —Rombongan Bimbingan Teknis Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitu Pasna) bagi jurnalis media informasi cetak dan elektronik se-Sumatera Barat (Sumbar) mengunjungi lokasi bencana di Nagari Pangkalan, Kecamatan Pangkalan Kota Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Jumat (1/11).

Kunjungan ke daerah perbatasan Provinsi Sumbar dan Riau itu bertujuan untuk mengetahui kondisi di lapangan akibat pascabencana banjir pada 2017 silam. Rombongan mengunjungi salah satu sungai yaitu Batang Kasok, yang merupakan daerah yang cukup parah terdampak banjir kala itu.

Wali Nagari Pangkalan, Rifdal Laksamano menyampaikan, bahwa di nagari yang dipimpinnya ada 11 jorong. Dari jumlah itu ada 6 jorong yang rentan terhadap bencana banjir. “Di antaranya Lakuak Gadang, Pasar Usang, Koto Panjang, Tigo Balai, Sopang, dan Banja Ranah itu merupakan daerah rawan bencana,” jelasnya kepada awak media.

Dikatakannya, daerah setempat mempunyai empat titik tumpu sungai. Di antaranya, Batang Hulu Kasok, Batang Maek, Batang Manggilang dan Batang Samo.

Nagari yang berpenduduk mencapai 2458 Kepala Keluarga (KK) itu setiap tahunnya berpotensi mengalami bencana banjir. Namun yang paling parah terjadi pada 2017 silam.

Menyikapi hal tersebut, Wali Nagari mengimbau kepada masyarakat supaya bisa mengatasi masalah banjir yang terjadi selama ini dan berharap tidak terjadi lagi. “Antisipasi, kita menyiapkan tiga kelompok Siaga bencana disetiap jorong yang diisi oleh pemuda yang tanggap terhadap bencana,” ungkap Rifdal.

Selain itu, juga dibangun bendungan serta mensosialisakan kepada masyarakat tentang cara menghadapi sebelum terjadi banjir, sedang, dan pasca banjir. Sehingga masyarakat menjadi paham dan tanggap akan potensi bencana yang mengintai.

Rifdal Laksamano juga menekankan kepada masyarakat, agar tidak menebang hutan secara sembarangan yang bisa meningkatkan potensi bencana banjir dan longsor.(frd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.